Kilas Pendidikan Edisi 23: Menumbuhkan Literasi Bermakna di Kab. Probolinggo Jilid II

-

Kilas pendidikan edisi 23 ini memaparkan hasil akhir akhir (endline) mengenai gambaran literasi dan numerasi di Kabupaten Probolinggo. Dengan menggunakan instrumen PEMANTIK (Pengukuran Mandiri Numerasi dan Literasi PSPK), PSPK melakukan penelitian ini sebagai bagian dari Kolaborasi Literasi Bermakna (KLB), salah satu mitra INOVASI di Jawa Timur. 

INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) adalah program kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk menemukan dan memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa jenjang pendidikan dasar – khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi, numerasi, dan pendidikan inklusi. Bekerja dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, INOVASI menjalin kemitraan dengan 17 Kota yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Program pendidikan ini berjalan sejak tahun 2016 hingga tahun 2019 dan dikelola oleh Palladium atas nama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia. INOVASI memulai program kerjasama dengan sejumlah organisasi pendidikan di Indonesia sejak bulan Juli 2018 untuk mendukung tujuan program dalam meningkatkan hasil pembelajaran siswa sekolah dasar.

PEMANTIK telah digunakan dua kali, yaitu di awal program (Maret), dan di akhir program (Oktober). Seperti hasil penelitian yang dilakukan di awal program (baseline), hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu memahami teks pendek dan pengurangan tanpa meminjam. Hal ini terutama dipengaruhi oleh jenjang kelas, dimana siswa di kelas yang lebih tinggi mampu menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi yang lebih tinggi juga. Temuan penting lainnya dari penelitian ini adalah peran orang tua dan guru dalam proses belajar siswa. Proporsi siswa dengan hasil tes yang tinggi didominasi oleh siswa yang berasal dari keluarga dengan SES yang cenderung tinggi. Selain itu, siswa dengan guru yang terlibat aktif dalam penyebaran praktik baik juga menunjukkan hasil tes yang lebih baik. Penjelasan lebih detail akan dibahas dalam bagian berikutnya.

Secara umum, penelitian ini digambarkan dalam tiga kerangka berpikir utama, diantaranya: 

• Bagaimana gambaran siswa yang menjadi responden; 

• Bagaimana capaian literasi dan numerasi dasarnya; 

• Faktor apa saja yang bisa menjelaskan perbedaan capaian siswa. 

Temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat menjadi masukan untuk sejumlah pemangku kepentingan seperti orang tua, guru, dan pemerintah daerah. 

Temuan menjadi aspek yang mengindikasikan pentingnya strategi tertentu yang terbukti efektif dalam meningkatkan capaian belajar siswa. Dalam penelitian ini, baik faktor sekolah dan faktor luar sekolah, keduanya memberikan kontribusi dalam meningkatkan kemampuan siswa.

RECENT POSTS

Kilas Kebijakan PSPK: Proses Kebijakan Blended Learning di Masa Pandemi

Unduh Kilas Kebijakan PSPK Kondisi pandemi di Indonesia mengharuskan dunia pendidikan melakukan adaptasi. Salah satunya dengan menghadirkan rencana...

Diskusi Kelompok Terpumpun: Poros Pelajar Peduli Pendidikan

Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) mengadakan kegiatan Poros Pelajar Peduli Pendidikan pada Sabtu (14/11) kemarin. Poros...

Benarkah Asesmen Nasional Tidak Punya Landasan Hukum?

Oleh Anindito Aditomo, Peneliti PSPK Kemendikbud telah meluncurkan Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional....

Asesmen Nasional vs. Ujian Nasional: Apa Persamaan dan Perbedaannya?

Oleh: Anindito Aditomo Mulai tahun depan, Ujian Nasional (UN) akan diganti dengan Asesmen Nasional (AN). Demikian diungkapkan Mendikbud Nadiem...

Beranda PSPK Jilid XXV: Peran Kemitraan dalam Penyusunan Kebijakan PAUD

Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) pada hari Rabu, 9 September 2020 menggelar Beranda PSPK sebuah diskusi publik yang bertujuan untuk mengkaji...